|
Hari ini sinar matahari menyengat kota gudheg tanpa ampun. Panas dan penat.
Di sebuah gedung tampak orang - orang berjalan keasana kemari sambil membawa
gulungan kertas putih. Kemudian beberapa diantara mereka memasuki ruangan
bercat krem itu sambil membuka gulungan kertas yang mereka bawa dan mulai
mengeluarkan pensil.
Tampak seorang gadis yang
duduk di sudut depan ruangan sibuk menggoreskan pensilnya di gulungan kertas
besar yang berada diatas mejanya. Dia terlihat sangat serius, pandangannya tak
pernah lepas dari kertasnya. Setelah beberapa lama, dia beranjak dari kursinya,
menyerahkan gulungan kertas itu dan kemudian melangkah keluar ruangan. Sinar
matahari yang menyengat kulit sawo matangnya membuat dia menggerutu kecil,
namun dia segera melangkah melewati pintu gerbang dan meninggalkan hiruk pikuk
yang masih tersisa disana.
* * * *
Suara benda yang berada
diatas meja kecil itu berbunyi berisik.
Rere menggeliat bangun, menyibakkan selimut dan mengucek mata beningnya.
Kemudian dia mematikan jam weker yang berdering dengan suara aneh.
Hari senin. Dan Rere pun tersenyum. Ya, hari ini adalah hari senin. Gadis
itu bergegas mandi dan bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah.
”Pagi Ma...” sapa Rere kepada Mamanya dengan ceria.
”Ceria banget hari ini?” tanya Mama Rere sambil tersenyum. ”nanti kamu
diantar Papa ya, kalau udah pulang telpon Papa, biar nggak lupa dijemput”
lanjut Mama.
”Iya Ma..beres dah!” sahut Rere sambil memakan sarapannya.
Beberapa menit kemudian,
Rere sudah siap di teras rumah dengan seragam putih abu abu dan tentu saja
dengan badge sekolah yang selalu Rere banggakan. Gadis itu menalikan sepatu
putihnya sambil menunggu Papanya yang sedang memanasi mesin mobil.
Suara klakson mobil
membuatnya bangkit, kemudian berjalan ke arah mobil Taruna hitam dan menutup
pintu. Mobil itu merangkak perlahan menuju jalan raya kota Yogyakarta.
* * * *
”Rere sekolah dulu ya..
Dah papa!” pamit Rere sambil mengecup punggung tangan Papanya. Dia pun segera
memasuki gerbang sekolah dengan tulisan ”Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR)
Yogyakarta”.
Nama lengkapnya adalah
Renata Adittama, dari dulu Ia akrab disapa Rere. Kulitnya sawo matang, orangnya
cuek dan sedikit berantakan, rambutnya lurus sebahu, tapi Rere selalu mengikat
rambut lurusnya itu, wajahnya manis. Dan satu yang istimewa, Rere memiliki mata
yang sangat bening dan indah. Dan hari ini adalah hari pertama Rere merasakan
menjadi murid SMA. Setelah mengikuti seluruh rangkaian tes, akhirnya Rere
diterima di SMSR, dan itu adalah impiannya sejak dulu. Sejak dia masih anak-
anak, sejak dia mulai mengenal kanvas dan cat, sejak dia sering melukis langit
di sore hari bersama seseorang yang tak pernah Rere lupakan hingga detik ini,
walaupun sudah bertahun – tahun Rere tak berjumpa dengannya.
Rere berjalan pelan
melewati koridor sekolah dan mencari kelasnya. Nah, ini dia X1. Dia pun segera
masuk dan mengambil tempat duduk di deretan tengah.
Rere mendengar suara dua
orang laki – laki sedang berbincang di luar kelas.
”Kelas apa lo?” tanya sebuah suara yang asing ditelinga Rere.
”Kelas X2, lo?” jawab suara lain, suaranya lebih berat dari yang pertama.
”Gue X1. Oke, sampai ketemu nanti”
Rere memandang ke arah pintu, tepat saat itulah seorang anak laki – laki
masuk, dan ada anak laki – laki lain yang melambai kemudian berjalan lurus. Rere
menyipitkan matanya, memandang lekat – lekat laki – laki yang berjalan menuju
ruang kelas X2.
Hey! Sepertinya Rere pernah mengenalnya. Tapi siapa? Dimana? Kapan? Sosoknya itu
mengingatkan Rere pada seseorang di masa lalu..
”Huuuh....” Rere mendengus. Menampik semua pikiran yang berkelabat di dalam
sel otaknya. Gadis itu menghela nafas. Mencoba mengingat kembali sosok
seseorang di masa lalu itu..rambutnya, wajahnya, tingkahnya..aaah ! Rere benar
– benar merindukan diaaa..
8 jam pelajaran yang
sangat di nikmati Rere berakhir seiring bunyi bel yang meraung – raung. Rere membereskan peralatan melukisnya. Dia
pun mendongak hendak beranjak pulang.
”Lo naik motor kan? Bareng ke tempat parkir yok!” lagi – lagi suara berat
itu mengagetkan Rere. Anak
laki – laki kelas X2 tadi menghampiri teman sekelas Rere, yang bernama Dimas.
”Bentar, nanggung banget ni gue lagi nerusin gambaran gue, bentar lagi juga
jadi kok” jawab Dimas.
”Okedahh, gue tungguin” kata laki – laki itu sambil duduk di sebelah Dimas.
Rere mengamati sosok itu lagi. Tubuhnya jangkung, dan proporsional, rambut
hitamnya acak – acakan jatuh menutupi kening, kulitnya sawo matang, sosoknya
terlihat menarik dengan ransel hitam yang menggantung di pundaknya. Tanpa
sengaja mata mereka bertemu. Laki – laki itu menatap Rere tepat di kedua manik
matanya, sekilas terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi,
dia malah menatap Rere dalam diam. Membuat Rere menjadi bingung. Namun detik
berikutnya Rere mengalihkan pandang dan beranjak pergi.
* * * *
Hari ini Rere berangkat
agak pagi, karena Papanya ada urusan di kantor. Rere berjalan santai menuju
kelasnya. Ketika mencapai pintu kelas, Rere tersentak mendapati anak kelas X2
itu lagi sudah nongkrong di kelasnya sedang mengobrol seru dengan Dimas. Rere
berusaha mengacuhkannya dan segera duduk di bangku depan. Seperti menyadari kehadiran
Rere, anak itu kembali menatap Rere dalam diam.
”Iihhh, ngapain sih dia ngliatin gue kayak gitu?” kata Rere dalam hati,
sebal. Baru saja Rere hendak keluar kelas, tapi anak itu sudah berjalan ke arah
Rere dan berdiri di depannya.
”Hai..” sapa laki – laki itu. Mau tidak mau Rere mendongak menatapnya.
”Hai..ada apa? Apa kita pernah kenal sebelumnya?” jawab Rere asal. Yang
ditanya malah memberikan senyum manis.
”Tenang aja..pasti suatu saat nanti kita bisa ketemu lagi, di Sekolah
melukis mungkin?” tiba – tiba anak itu mengucapkan sederetan kata – kata yang
membuat Rere terbelalak kaget. Kali ini Rere menatapnya dengan serius ”lo
Renata Adittama kan?” lanjutnya. Rere mencoba menguasai dirinya.
”Iyaa, dan lo.....Winata Putratama?” tanya Rere dengan ragu. Orang di
hadapan Rere mengangguk. Dan detik berikutnya Rere berteriak heboh saking
girangnya.
”Hahaha, nggak nyangka gue bisa ketemu lo lagi, Nat. Gue kangen.. lama
banget kita nggak ketemu..” teriak Rere, sambil meloncat – loncat kegirangan.
”Haha, iya. Terakhir ketemu waktu kita kelas 3SD. Bener kan apa yang gue
bilang dulu? Kita ketemu lagi di sekolah melukis Re, di SMSR. Haha nggak
nyangka..” jawab laki – laki yang ternyata bernama Nata dengan ceria..
”Berarti kita satu sekolah kan? Asyiikk..” pekik Rere.
”Iyaa Re, jadi kita bisa melukis sama – sama lagi” kata Nata sambil
mengacak – acak rambut Rere.
Ya, akhirnya dua sahabat
itu berjumpa lagi. Entah suatu kebetulan atau bukan nama mereka mirip, Renata
Adittama, dan Winata Putratama. Mereka bersahabat karena rumah mereka
berdekatan, satu sekolah, dan memiliki hobbi yang sama. Beberapa tahun yang
lalu Nata terpaksa pindah mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai tentara.
* * * *
”Re..pulang bareng gue yok!” suara
yang sudah tak asing lagi di telinga Rere itu terdengar setelah jam ke 8
berakhir.
”Okelah Nat, gue telpon papa gue dulu, biar nggak
usah jemput gue”
”Oh iya Re, sekalian telponin mama lo, bilang
kalau gue mau mampir ke rumah. Biar dimasakin yang enak-enak, haha” kata Nata
sambil nyengir. Rere hanya memonyongkan mulutnya.
Beberapa
menit kemudian mereka sudah menyusuri jalanan kota Yogyakarta yang ramai pada
jam – jam pulang sekolah.
”Assalamu’alaikum” Rere mengucapkan salam ketika
tiba di depan rumahnya.
”Wa’alaikumsalam” jawab Mamanya dari dalam.
”Masuk Nat. Oiya, dirumah gue nggak ada makanan,
jadi siap – siap aja kelaparan, haha”
”yee, ya udah
gue pulang aja Re” canda Nata.
”Yo udah pulang
aja sana hussh”
usir Rere. Tapi tetap saja Nata mengikuti Rere yang ngeloyor masuk ke dalam
rumah.
Beberapa menit
kemudian, Mama Rere muncul dari dapur, dan agak terkejut ketika mengetahui Rere
tidak pulang bersama Ayahnya. Ekspresi wajah Mama Rere terlihat bingung.
”Mama tau ini
siapa?” tanya Rere sambil menahan tawa. Dan mamanya hanya menggeleng. Nata pun berdiri, dan bersalaman dengan Mama
Rere.
”Nata, tante” kata Nata sopan.
”Ya ampun, ini Nata??” Mama terlihat terkejut. Beliau
mengamati Nata, ”maaf tante nggak ngenalin, kamu beda, nggak nyangka bisa
ketemu lagi yaa..” lanjut Mama.
”Iyaa tante, saya satu sekolah sama Rere, tapi
beda kelas”
”Oh begitu..ya sudah di terusin dulu aja
ngobrolnya, mama ke dapur dulu”
Dan
Rere mengobrol panjang lebar bersama Nata hari itu. Menceritakan apa
yang belum sempat mereka ceritakan. Bercerita tentang kehidupan Nata di medan
dan kehidupan Rere di Yogyakarta, bagaimana keduanya masih sama seperti
dulu..masih sama-sama mencintai seni lukis.
Jarum
jam menunjukkan pukul 17.00, sepontan Rere menarik lengan Nata.
”Ikut gue” kata Rere singkat.
”kemana?” Nata tampak kebingungan. Tapi Rere tak
menjawab, dia menggamit lengan Nata dan mengajaknya menaiki tangga menuju
balkon rumah. Disana ada satu kanvas, lengkap dengan cat air, dan kuas. Nata
pun tersenyum mengerti.
”Lo ngajak gue nglukis langit sore kan?” tebak
nata. Rere mengangguk.
”sekalian lukis matahari terbenam Nat..mumpung
lagi bagus tuh” kata Rere sambil melihat semburat permainan warna emas, dan
jingga di langit. Kali ini giliran Nata yang mengangguk. Mereka berdua pun sibuk
menggoreskan cat di atas kanvas. Segera saja tercipta warna – warna yang
berpadu dengan serasi di atas kanvas mereka. Indah, ada art di sana.
Langit
senja itu pun berubah menjadi gelap, tampak bintang – bintang mulai
bermunculan. Dan Nata pun berpamitan untuk pulang.
* * * *
Tak
terasa hampir satu tahun Rere menjadi anak SMA. Inilah hidupnya, sekolah,
belajar, dan melukis. Ada Nata dimanapun Rere berada, begitu sebaliknya. Selalu
ada tawa, dan canda, bahkan tak jarang mereka berdua bertingkah konyol.
Yogyakarta, 20 Juni 2011
”Hari dimana dia pergi...”
Semua
murid menikmati liburan akhir semester mereka. Rere sedang duduk santai di atas
sofa sambil menonton tv ketika hape yang berada di atas meja makan miliknya
bergetar. Tertera nama Nata disana.
”Haloo..kenapa Nat?” tanya Rere to the point.
”Lo dimana Re? Bisa kita ketemu sebentar?”
Rere agak bingung karena tidak seperti biasanya
Nata menelephonnya dengan suara seserius itu.
”Gue di rumah, oke. Ketemu dimana?”
”di sekolah Re, sekarang bisa?” kata Nata dengan
sedikit memaksa.
”iyaa, gue kesana sekarang” klik. Telephone di tutup. Rere bingung setengah
mati. Nata kenapa? Dia
terlihat beda.. dan perasaan Rere menjadi tidak enak. Namun dia segera
menyambar jaket yang tergantung di balik pintu kamarnya. Setelah berpamitan
kepada orangtua, gadis itu segera mengendarai motornya menuju sekolah.
Rere
mencari – cari sosok Nata di sekitar pendapa SMKI. Nah, itu dia.
”Nat..” panggil Rere pelan. Nata pun menoleh.
“ikut gue yuk Re..“ kata Nata. Rere pun mengikuti
Nata. Mereka berdua menuju bangku di bawah pohon dekat kompleks Sekolah
Menengah Musik (SMM).
”Hmm..enak ya sekolah di SMSR?” tanya Nata.
”Iya, enak Nat” jawab Rere sambil masih menebak –
nebak ada apa dengan Nata.
”Gue seneng bisa sekolah di sini Re, gue seneng
bisa balik lagi ke Yogya, dan yang paling penting, gue seneng bisa ketemu lo
lagi, sahabat terbaik..”
”Sebenarnya ada apa Nat? Kenapa? Gue liat lo beda
hari ini” Rere memotong ucapan Nata. Sunyi. Tak ada jawaban dari Nata. Rere
memandang sahabatnya yang tertunduk.
”Nat..” panggil Rere dengan suara lembut. Nata
mendongak mencari mata Rere.
”Gue..gue..nggak tau mesti bilang gimana sama lo”
”ada apa? Bilang aja Nat..” Rere mulai terdengar
tidak sabar.
”Gue harus pergi Re, maaf...” Nata menggantung
kalimatnya. Rere memandang sahabatnya dengan pandangan
jangan-bergurau-dengan-hal-semacam-itu.
”maksud lo? Lo lagi bercanda kan?”
”gue serius Re. Gue bener – bener harus pergi.
Ayah gue harus pindah dinas lagi ke bengkulu”
Rere memandang Nata dengan tak percaya.
”Dan kapan lo pergi?” tanya Rere lirih. Berusaha
untuk tidak menangis.
”Hari ini Re, 2 jam lagi gue mesti pergi. Maaf gue
baru bilang sekarang, sebenarnya gue mau bilang dari kemarin, tapi gue bingung
mau mulai darimana..maaf Re..”kata Nata, Rere menghela nafas berat, mencoba
melegakan hatinya yang tiba – tiba sesak.
”Nggak papa Nat..gue harap lo nggak bakal lupa
sama gue kalo lo udah jauh dari Jogja nanti..” jawab Rere sambil memaksakan sebuah
senyum. Gagal. Sebulir air bening jatuh dari kedua matanya yang indah. Rasanya
baru sebentar sekali dia bersama – sama dengan Nata.
”Tenang aja Re..gue nggak bakal lupa sama lo. Gue
bakal sering – sering telpon Lo.. kita tetep masih jadi sahabat Re..” kata Nata
menghibur Rere. Gadis itu pun mengangguk, kembali mencoba untuk tersenyum.
Melewatkan 1 jam bersama Nata, walaupun enggan
akhirnya Rere harus berpisah dengan sahabatnya..
Rere mengendarai sepeda motornya dengan pelan. Sesempainya di Rumah Ia
langsung menuju kamar. Teredengar ketukan halus dipintu, tak lama kemudian Mama
muncul. Beliau duduk di tepi ranjang dan mengusap kepala Rere yang
tertelungkup.
”Rere sedih karena berpisah dengan Nata?” tanya Mama tepat sasaran. Gadis
itu mengangkat kepalanya dan menatap Mamanya.
”Iya Ma.. Mama tau? Sudah 7 tahun aku nggak ketemu Nata, sampai – sampai
aku hampir nggak ngenalin dia waktu aku tau aku satu sekolah. Dan Mama tau?
Rasanya baru sebentar sekali Rere bisa bareng – bareng sama Nata, tapi sekarang
Nata udah nggak ada sama Rere lagi..” kata Rere panjang lebar.
”Iya, mama tau kok. Tapi sekarang coba Rere berpikir, Nata pergi itu bukan
untuk selamanya Nak, mungkin bisa saja suatu saat nanti kalian ketemu lagi. Di
ISI mungkin?.Rere pengin masuk ISI juga kan? Sama dengan Nata. Jadi berpikirlah
positiv, dan jalani hari – hari Rere seperti saat ada Nata” nasihat Mama. Gadis
itu mengangguk, dan tersenyum.
’Ya. Nata pergi bukan untuk selamanya. Aku akan ketemu lagi dengan Nata,
aku pasti bisa jalani hari – hari seperti biasanya, seperti saat ada Nata..’
tekad Rere dalam hati.
* * * *
Melewati hari – hari tanpa Nata...
”Idiiih Dim, gamabaran lo
lucu banget, hahaha” Rere tertawa ketika mengamati gambaran Dimas. Gambar
sebuah wajah dengan bibir yang terlalu ke kiri.
”Yeee, lo ngejekin gue ya? Apanya yang lucu sih Re?” tanya Dimas sewot.
”Hahaha, itu bibirnya terlalu miring ke kiri Dim, haha” Rere berkomentar di
sela – sela tawanya. Dimas manyun mengamati gambarannya sendiri.
”Ini udah pas Rere dudul, ntar kalo gue geser ke kanan jadinya monyong
dong, coba deh lo gambarin bibirnya yang pas..” kata Dimas. Rere langsung
mengambil alih kertas besar itu dan menghapus gambaran Dimas, lalu dengan sigap
tangannya bergerak membentuk sebuah gambar.
”Yee, itu mah terlalu dhower Re..hahahaha” sekarang gantian Dimas yang
tertawa.
”Masa sih? Ini udah pas Dimas odong” Gadis itu membela diri. Perdebatan
mereka berhenti karena bel masuk sudah berdering. Rere kembali ke bangkunya
sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
Ya, Rere sudah bisa seperti dulu. Tertawa dan
bercanda, tanpa Nata..menjalani hari – harinya seperti biasa.
Rere baru saja hendak
keluar dari kamar, tapi hape yang terletak di atas meja belajar bergetar. 1
panggilan masuk, nata. Rere tersenyum melihat nama itu muncul di layar.
”Haloo..” sapa Rere.
”Hai Re..gue kangen sama lo. Udah lama kita tak jumpa, haha lagi sibuk apa
Re?” Nata nyerocos membuat Rere geleng – geleng kepala.
”Hai Nat..gue juga kangen sama lo, iya ni udah lama nggak ketemu. Sibuk
sekolah Nat, haha. Tugas gue banyak banget ni, mau bantuin nggak?” Rere tak
kalah nyerocosnya.
”Aduuh Re, lo ngomongnya jangan cepet – cepet dong, lo kan tau kalo gue
telmi” Nata mengeluh.
”Haha, habisnya lo tadi ngomongnya juga cepet banget sih Nat. Iya gue tau
kok kalo lo telmi, haha”
”Yeee dasar. Gimana lo sehat – sehat aja kan sekeluarga?
”iya alhamdulillah sehat, lo sendiri?
”Gue sama keluarga juga baik – baik aja kok. Udah dulu ya Re, gue dipanggil Mama ni. Sampai
ketemu di ISI, hehe” klik telephon di tutup, dan Rere pun kembali tersenyum. Iya Nat, semoga kita ketemu di ISI, kata
Rere dalam hati.
* * *
3 tahun
sudah..menjalani hari – hari di tempat ini..
Ujian Nasional sudah dihadapi.
Rere lulus. Dan diapun mendaftar di Institut Seni Indonesia (ISI) bersama Nata
yang kembali ke yogya untuk mengejar mimpinya berkuliah di ISI, walaupun dia
akan hidup jauh dari keluarga, dan akan mencari kos di yogya. Sebenarnya
orangtua Nata tidak menyetujui, tapi bagi Nata, hidup ini kadang butuh
kenekatan. Nata berpamitan pulang ke Yogya dengan alasan ingin berkumpul lagi
dengan teman – temannya di SMSR, padahal tujuan utama Nata adalah untuk
mendaftar. Setelah mendaftar di ISI dan menunggu hasil pengumuman, Nata kembali
lagi ke Bengkulu menyelesaikan semua urusannya disana, membujuk orangtua dengan
dalih dia sudah terlanjur mendaftar
Murid SMSR masih banyak yang
bertandang ke sekolah, untuk menyelesaikan ini – itu ataupun sekedar berkumpul
dan melukis..
Dimas menghampiri Rere yang
sedang asyik di bangkunya sambil menggoreskan pensil hitamnya.
”hahahahahaha” tawa Dimas yang
seperti nenek sihir membuat Rere kaget.
”Haduu, apaan sih Dim? Lo
ngagetin gue..” Rere cemberut sebal.
“Haha, lo nggambar matanya nggak
bener tuh Re, nggak proporsional sama mukanya” komentar dimas.
Rere cemberut, ”iya juga ya, tapi
gue emang nggak ahli nggambar mata Dim. Gambarin dong”
”No way.. gue juga nggak ahli
nggambar mata Re, yang pinter gambar mata tuh si Na..” Dimas tidak jadi
melanjutkan kalimatnya karena melihat ekspresi wajah Rere yang tiba – tiba
muram.
”Nata..” Rere menggumam
melanjutkan kalimat Dimas yang belum diselesaikannya ”Nata gimana ya? Gue takut
dia nggak di ijinin kuliah di ISI sama orangtuanya” lanjut Rere.
”emm...sorry Re..” Dimas jadi
salah tingkah.
”Nggak papa Dim, santai ajaa”
Rere pun tersenyum.
.’Nata jadi kuliah di ISI nggak ya?’ Rere bertanya – tanya dalam hati
sambil mengendarai motornya melewati sepanjang jalan bugisan untuk pulang ke
rumah.
”BRAAAAKKKK!!” tiba – tiba sebuah benda yang keras menghantam motor Rere
dari arah samping saat Rere hendak menyebrang. Tubuh Rere terpental jatuh ke aspal. Matanya
terasa sangat sakit. Tubuhnya tak mampu di gerakkan. Gelap. Rere pingsan
setelah sebuah motor menabraknya dengan kecepatan tinggi.
Satu bulan saat aku merasa hidupku dan duniaku
menjadi gelap..
”Rere..” panggil Mama lembut. Rere menoleh ke arah suara itu.
”Iya Ma?” tanya Rere pelan.
”Ada surat dari Institut Seni Indonesia” mama menghela nafas sebelum
melanjutkan kalimatnya ”kamu diterima di ISI, Nak”
Entah harus senang atau sedih Rere tak mengerti. Dia senang karena dia bisa
kuliah di ISI, tapi bagi Rere mustahil rasanya untuk dapat melukis jika matanya
tak dapat melihat.
Hape yang berada di genggaman Rere bergetar. Rere tak dapat melihat siapa
penelephonnya.
”Haloo..”sapa Rere.
”Re, lo diterima di ISI juga kan? Gue juga, yeah!” suara Nata dari ujung
telephone.
”Selamat Nat! Gue juga diterima di ISI.." suara Rere mendadak menjadi serak, menahan tangis.
"Re, lo kenapa?" Nata bingung..
"Gue udah nggak bisa liat apa - apa lagi Nat, karena kecelakaan satu bulan lalu.. mustahil rasanya bisa kuliah di sana.."
"Gue udah nggak bisa liat apa - apa lagi Nat, karena kecelakaan satu bulan lalu.. mustahil rasanya bisa kuliah di sana.."
"Reee..." suara Nata tercekat di kerongkongan.
* * * *


