|
Keyla mengendarai motornya dengan kecepatan
sedang. Key, begitulah orang – orang biasa menyapanya.Gadis manis itu baru saja
selesai mengikuti tambahan pelajaran di sekolahnya. Dia bersekolah di SMA Citra
Negri, salah satu sekolah favorit di kota Palembang.
Tiba – tiba saja motor di depannya berhenti dengan mendadak membuat Keyla
terkejut. Dengan refleks dia mengem motornya.
”Aaahh..!” Key berteriak ketika dia menabrak motor di hadapannya. Brukk!
Keyla jatuh, begitu juga dengan motor yang ditabraknya.
”Aduh..” Key meringis kesakitan ketika melihat siku dan kakinya lecet –
lecet. Untung saja jalanan lagi sepi.
Keyla bangkit dan menghampiri orang yang ditabraknya tanpa sengaja. Gadis
yang ditabraknya jiga masih mengenakan seragam SMA.
”Maaf, aku nggak sengaja.” Keyla menawarkan tangannya untuk membantu gadis
itu berdiri. Tapi gadis itu tidak menggubris, Ia malah cepat – cepat membuka
tas. Sepertinya itu tas khusus biola. Tiba – tiba wajahnya memucat, sedetik
kemudian dia menangis. Key melongo, bingung.
”Maaf, apa ada yang sakit?” tanya
Key.
Gadis itu menoleh, dengan mata semabnya. ”kau!?”
Keyla kaget. Ternyata gadis itu adalah Via, temannya semasa SMP.
”Via, maaf. Aku nggak tau kalo tiba – tiba aja kamu ngerem mendadak. Apa
ada yang sakit?”
Wajah Via berubah merah padam, ”Kamu telah merusak barang berharga yang aku
punya!”
”Maksud kamu?” tanya Keyla bingung.
Via menunjukkan barang yang di pegangnya. ”Ini adalah biola pertamaku.
Biola ini adalah pemberian almarhum bapakku, dan aku sudah berjanji akan
merawatnya! Tapi kau malah merusaknya!” Via berkata menahan amarah, dia
mrnunjukkan biola yang sudah patah itu. Keyla merasa bersalah.
”Maaf, Via.. Aku nggak sengaja!”
”Percuma! Biola ini udah rusak, dan walaupun kamu ganti dengan biola
semahal apapun, itu nggak bakal bisa ngeganiin biola ini!” kata Via ketus. Dia
segera berdiri dan menstater motornya, kemudian berlalu pergi. Keyla menatap
kepergian Via dengan rasa bersalah, kemudian gadis itu juga menstater motornya,
dan pulang ke rumah. Besok dia akan ke rumah Via untuk bertanggung jawab.
Keyla berbaring di
ranjangnya. Luka – luka di siku dan kakinya baru saja di obati oleh ibunya.
”Key..!” seseorang tiba – tiba langsung nyelonong ke kamar Key yang
pintunya sengaja di buka, Rio masuk.
”Kamu nggak papa kan? Kok bisa kecelakaan gini sih?” tanya Rio khawatir.
Rio adalah sahabatku sejak SD, Kedua orang tua kami juga sudah kenal baik. Itu
sebabnya, Mama membiarkan makhluk berjenis kelamin laki – laki masuk ke
kamarku.
”Aku nggak papa kok. Cuma lecet – lecet doang.” aku pun menceritakan
kejadian tadi, termasuk biola Via.
”Oh..” Rio manggut – manggut ketika aku selesai cerita. ”terus keadaan
temen kamu tadi gimana?”
”Aku juga nggak tau. Tapi aku ngrasa
bersalah banget udah bikin biola itu patah”
”bukan salah kamu juga, Key. Itu kan kecelkaan” Rio menghiburku. ”Besuk
kamu coba minta maaf ke temn kamu tadi.. siapa namanya?” – ”namanya Via”
potongku. ”iya, kamu coba minta maaf sekali lagi, mungkin dia bisa ngerti”
lanjut Rio.
”besok kamu mau nggak nagnterin aku ke toko alat musik buat beli biola?
Kamu kan pinter kalo suruh milih alat musik gitu.”
Rio nyengir”nggak pinter – pinter banget kok. Boleh deh, besuk aku jemput
pulang sekolah ya?”
”Siip. Makasih, Rio” kataku sambil tersnyum.
”yo.i, sama – sama. Dah, tidur dulu sana. Aku pulang ya, Key.” kata Rio,
aku mengangguk. Mama masuk membawakan nasi untukku.
”Rio pulang dulu, tante.” kata Rio, sopan.
”Iya, makasih ya.” jawab mama.
”Sama – sama, tante. Pulang dulu, Key.” Rio melambai, dan berjalan keluar
kamarku.
* * * *
Aku sudah berdiri di depan
rumah Via, Rio tidak bisa mengantarku karena adal les gitar, sedangakan hari
ini aku ijin tidak berangkat les gitar. Ragu – ragu ku ketu pintu rumah.
Seorang wanita vantik menyambut kehadiranku, itu adalah mamanya Via. Beliau
menyuruhku masuk.
”Via, ada tante?” tanyaku.
”oh.. ada, sebentar ya Tante panggilkan dulu.” Bwliau segera masuk ke
kamar, Via.
”Pokoknya, Via nggak mau ketemu Keyla lagi! Dia udah ngerusak biola
kesayangan Via!’ aku mendengar kata – kata itu dari kamar Via. Beberapa menit
kemudian Mama Via muncul.
”tidak apa – apa, Tante kalo Via nggak mau ketemu Keyla. Key minta maaf
kalo Key udah ngrusak biola Via. Tolong kasih ini ke Via ya, Tante.” kataku
perlahan sambil menyerahkan biola yang tadi baru ku beli.
”Itu bukan salamu, Key. Itu
kecelkaan.” Mama Via tersenyum
“mestinya kamu nggak usah repot begini.”
”nggak papa tante. Key pulang dulu ya. Assalamu’alaikum.
”Walaikimsalam. Hati – hati ya!” Mama Via mengantarku sampai ke pintu. Aku
mengangguk – angguk.
* * * *
Sore ini, aku mengendarai
motor menuju ’markas’ ku dan, Rio. Markas kami itu ada di dekat sekolah. Di
bwah pohon yang Rimbun, papa Rio membuatkan sejenis gubuk menggunkan kayu.
Setiap selasa sore, aku dan Rio rutin kesana. Kami biasa bermain gitar di sana,
ataupun sekedar bercerita. Anak itu sudah menungguku sambil meminkan gitarnya.
”Gimana tadi? Sukses kan?” tanyanya begitu aku duduk dan mengeluarkan
gitarku.
Aku menghela nafas, ”Via nggak mau ketemu aku, dia masih marah.”
”AP-PA?!” Kata rio lebih terkesan kaget daripada bertanya.
”Dia nggak mau ketemu aku!” ulangku. ”kuping kamu nggak lagi bermasalah
kan, Rio?”
”Yeee.. enak aja!” Rio nyeengir ” aku kaget tauk. Ya udahlah yang penting
kamu udah minta maaf, dan ngganti biola itu. Lama – lama dia juga nggak marah
lagi kok.”
Aku mendengus, ”tau dari mana kalo dia gak bakal marah lagi ama aku?”
”Ya dari aku” jawab Rio cuek. ”Feeling aja. Ya sudahlah, seperti kata
Bondan Prakoso nih, janganlah kau bersedih, cause evrything’s gonna be oke.”
Kata Rio lagi, kali ini sambil memainkan gitarnya.
”Hahaha.. bisa aja kamu.” kataku sambil mengikuti petikan gitar milik Rio.
* * * *
3 Bulan kemudian...
Aku sudah tidak pernahh bertemu Via. Dan aku juga tidak pernah lagi datang
kerumahnya, karena aku tau itu percuma. Jam pelajaran udah selesai.
”Key..!” Rio memanggiku. ”Ke markas yuk! Mau kan?”
Hmm.. aneh, biasanya ada sesuatu yang akan diomongin kalo tiba-tiba ngajak
ke markas, pikirku. ”Oke” jawabku.
Aku dan Rio pun menaiki motor dan menuju markas kami itu. Kami duduk di gubuk,
semilir angin mempermainkan ujung jilbab putihku.
”ada apa?” tanyaku akhirnya, aku tidak bisa dia terus membuatku menunggu.
Rio menghela nafas, matanya berbinar, ”Key, aku jatuh cinta” kata-kata itu
terucap begitu saja, aku melongo. Nggak biasanya Rio ngomongin cinta, cinta.
”Kamu jatuh cinta?” tanyaku, kali ini sambil menahan tawa. ”sama siapa?’
”Kalo mau ketawa, ketawa dulu aja, Key.” kata Rio sebal.
”Hehehe,, habisnya dari dulu kan kamu nggak pernah ngomongin cinta-cintaan.
oya, jatuh cinta ama siapa?”
Ditanya begitu, bisa dipastikan Rio menghela nafas lagi, ”Ama adik
sepupunya temenku. Namanya Silvi, orangnya, pinter, cantik, jago main musik
pula!”
”Cieeh, yang lagi falling in love” godaku, ”cepet – cepet tembak aja”
Rio menggaruk kepalanya, ”nembaknya gimana ya?”
”Mmm.. gimana ya?” aku malah ikut – ikutan menggaruk kepalaku yang tidak
gatal ”kamu main gitar di depannya Silvi aja, lagunya jrocks yang ’falling in
love’ kataku.
”Wah,, pinter juga kamu, Key. Walopun ada unsur promosinya dikit, hehehe”
Aku yang merasa menyukai J-rocks pun manyun, ”ya nggak papa dong”
”Iya.iya. Besuk aku ketemu Silvi. Dan kayaknya aku bakal nembak dia besuk”
”Oke.oke, besuk aku kabari ya. Kalo diterima jangan lupa nraktir.”
”Tenang aja, Key. Kamu bakal aku traktir permen satu biji”
”Yeee.. enak aja!”
* * * *
Hari ini adalah hari
Selasa. Dan seperti biasanya, seusai adzan ashar aku membawa gitarku menuju
markasku, dan Rio. Lima belas menit sudah aku sampai ke sana. Tapi aku tidak
melijat Rio di markas yang menjadi saksi bisu persahabatan kita. Aku pun
menunggu sambil memainkan gitarku. Awalnya aku menikmati, tapi setengah jam
kemudian Rio belum juga mincul. Ku keluarkan handphone ku dari saku. Tepat saat
itu, handphoneku berdering. Telephone dari Rio.
”Assalamu’alaikum” sapaku.
”Wa’alaikumsalam, Key” jawabnya sumringah. ”Tau nggak, Key. Silvi nerima
aku. Sumpah, aku seneng banget. Td pulang sekolah aku nembak dia. Terus di terima deh.. hehehe”
”Owh..” jawabku. Huh, Rio nggak ingat kalo hari ini adalah hari selasa, dan
aku hampir lumutan nunggu dia disini. Tapi aku mencoba mengerti.
”Kok Cuma ’owh’, kamu nggak seneng ya?”
”Bukannya gitu, Rio. Tapi aku hampir lumutan nunggu kamu di markas”
”Masya Allah, aku lupa, Key kalo hari ini hari selasa. Sorry. Sekarang aku
ke sana..”
”Nggak usah” potongku. ”nggak usah nggak papa, Rio. Lagian ini udah sore. Aku mau pulang aja”
”Beneran nih, Key? nggak marah? maaf ya”
Aku menghela nafas ”nggak papa kok. Nyante aja. Udah ya, Rio.
Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumsalam” klik, telephone aku tutup. Tapi aku tidak langsung
pulang, melainkan masih berada di situ. Huh, sejak kapan Rio lupa jadwal ke
markas? sejak dia jatuh cinta, pastinya. Tapi nggak papalah, aku coba ngerti.
Mungkin emang gitu rasanya jatuh cinta. Tenang aja, Rio. Aku bakal coba mengerti.
* * * *
Hubunganku dan Rio sebagai
sahabat masih baik – baik saja. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku hendak
tidur. Tapi baru saja memejamkan mata, hpku bergetar. Rio.
’Key, Ak mo ngnalin Silvi ke km, tepat stlah sminggu jadian. 2 hri lgi jam
4 sore kita ktemu di cafe biasanya J’
Ya ampun, apa Rio lupa lagi kalau 2 hari lagi adalah hari selasa? entah
sudah berapa kali dia melupakan markas, saksi bisu persahabatan kita. Dan akhir
– akhir ini nyaris tidak ada topik lain yang di bicarakan selain, Silvi. Aku
tau dia sedang jatuh cinta, tapi aku takut persahabatan yang sudah dibangun
selama 13 tahun ini akan renggang.
’oke, Rio’ akhirnya jawaban itu yang aku kirim. Tak apalah, walaupun lagi –
lagi aku yang harus selalu mengalah.
* * * *
Hari Selasa, tepatnya
tanggal 2 February 2010 jam 4 sore. Aku menunggu Rio dan Silvi di cafe ini.
Baru saja duduk, aku sudah melihat Rio bersama seorang gadis yang cantik. Aku
tidak begitu memperhatikannya. Sampai kemudian mereka mendekat dan berdiri di
hadapanku. Rasa – rasanya aku kenal dengan gadis ini...
”Kamu lagi?” gadis itu bersuara dingin dan tajam.
”Via??” tanyaku kaget. ”jadi, kamu..kamu..” aku tak sanpai melanjutkan kata
– kataku, karena tiba – tiba saja, Via sudah membalikkan badan dan berlalu
pergi. Aku melihat ekspresi wajah Rio yang kelihatan bingung. Dia menatapku
dalam diam, setelah itu dia berlari sambil berteriak ”silvi! tunggu!”
Aku tertegun. Ingin sekali rasanya menangis, kenapa sahabatku malah memilih
Via? padahal dia pernah bilang ’Key, siapapun Via kalo dia bikin kamu sedih
gini, rasanya pengen aku hajar!’ aku tau aku punya kesalahan besar kepada Via,
tapi aku tak pernah mengharapkan kecelakaan itu terjadi. Sudah berulang kali
aku meminta maaf, dan akupun sudah mengganti biolanya. Jadi, keadaan setelah
itu nggak bisa aku paksakan. Aku menganggap masalah yang lama itu sudah
selesai. Akhirnya aku pun pulang. Sampai di rumah, aku langsung berlabuh ke
kamar. Menangis. Huh, sejak kapan aku jadi cengeng? Aku hanya takut kehilangan
sahabatku, dia sahabatku srjak kita masih TK. Pikiranku bercabang – cabang,
sampai kemudian aku tertidur.
Aku bangun saat adzan
maghrib berkumandang. Setelah shalat, akupun masih berada di dalam kamar. Pintu
kamarku di ketik.
”Key, di cari Rio tuh.” suara Mama.
”Iya. ma.” jawabku. apa Rio akan marah padaku karena ternyata aku telah
merusak biola kesayangan pacarnya itu? entahlah. Aku pun menemui Rio di ruang
tamu.
”Key, kenapa bisa gini? tolong jelasin. Aku nggak ngerti. Silvi nggak
jelasin apa – apa ke aku” suara Rio terdengar dalam.
Aku menarik nafas panjang ”kamu ingat kejadian 3 bulan lalu? saat aku
kecelakaan dan mematahkan biola, Via?”
”Iya, aku ingat kok. Apa hubungannya ama Silvi?”
Hmm.. Rio benar – benar bingung rupanya. ”Rio, sebenarnya..” aku menatap
mata Rio – ”sebenranya Via itu silvi. Namanya adalah Silvia Angesti. Waktu SMP
kami sering memanggilnya Via” jelasku.
”ooh... jadi begitu?” Rio mengangguk – angguk. Hening melingkupi kami.
”Jadi, aku jatuh cinta ama orang yang dulu pernah bikin kamu sedih, dan aku
bilang ingin menghajarnya. Tapi ternyata..” Rio tidak melanjutkan kata –
katanya.
”Nggak papa. Rio.” kataku. ”aku liat kau sayang banget ama via. Aku seneng kalo kamu seneng” lanjutku.
”Makasih, Key. Kamu memang sahabat paling baik. Oya, besuk ke markas yuk!
yaah, walupun besuk bukan hari selasa, tapi aku kangen mainan gitar ama kamu”
Aku tersenyum, akhirnya Rio masih ingat markas yang sebulan tidak kita
kunjungi ”:boleh, deh..” jawabku.
* * * *
Hari ini aku ada janji ke
markas ama Rio. Setelah berpamitan aku pun mnaikki motorku. Hujan mengguyur
tepat setelah aku sampai ke markas. Handphoneku bergetar, Rio.
”Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumsalam, Key, maaf banget aku nggak bisa datang. Tiba – tiba aja
silvi nggajak aku ketemuan. Maaf Key..”
”Owh.. ya udah nggak papa kok”
”Beneran nggak papa? Kamu nggak marah kan, Key.”
”enggak” jawabku pendek. Klik! Telphone ku tutup. Sulit ku jelaskan
perasaanku, ada sebal dan kecewa yang membuncah di dada. Sudah terlalu sering
Rio membatalkan janjinya. Aku memandang hujan yang lebat. Seorang diri di
markas ini, dingin pula. ”Aaaahhhhhh..........!!!!!!!!” teriakku sebal. Aku
langusng mngeluarkan kunci motorku. Untung saja tas gitarku kedap air, jadi aku
tidak perlu khawatir. Aku menyalakan motor dan segera menembus hujan, tanpa
mantel. Hujan tak kunjung reda, aku ngebut sambil memaki – maki srbal dalam
hati.
Sampai rumah, tanpa
ba-bi-bu, aku langsung menuju kamar mansi. Setelah mandi, barulah aku shalat
maghrib, kemudian berdiam diri di kamar. Menatap kosong ke luar jendela.
Ketukan halus di pintu membuyarkan lamunanku.
”masuk” kataku singkat, paling mama. Pikirku.
”Key..” Aku menoleh kaget. Ternyata Rio.
”Ada apa?” tanyaku dingin tanpa menatapnya, aku kembali menatap keluar
jendela.
Rio menghela nafas panjang, ” aku minta maaf karena aku sering membuatmu
nunggu di markas sendirian, dan aku juga minta maaf kalo sering batalin janji
kita, Key.”
”owh..” jawabku singkat, masih sambil menatap keluar jendela. Hening
melingkupi kami.
”Key..” Rio memangillku lagi, mau tidak mau aku menoleh. ”aku sudah putus
dengan silvi.” lanjutnya. Aku kaget setengah mati.
”Putus?? Yang bener aja? Cuma umur 2 minggu?” tanyaku..
”Iya. Dia selalu minta ketemuan tiap kali aku mau pergi ama kamu, Key. Dia
nggak suka kalo aku maen sama kamu. Dan aku nggak suka caranya Silvi. Tadi aku
habis bertengkar hebat sama dia, bagaimanapun kamu tetep sahabat aku, Key.
Nggak ada yang bisa nglarang aku buat ketemu kamu. Via ngamuk-ngamuk, tapi aku
nggak peduli.” Rio menarik nafas panjang ”dan saat itu aku berfikir untuk
memilih antara sahabatku atau kekasihku, dan aku milih persahabatan, Key.
Persahabatan kita.” suara Rio terdengar lirih. Kali ini aku menoleh,
memandangnya.
”Rio, maaf kalau aku..”
”Sudahlah.” Rio memotong ucapanku. ”aku Cuma pengen persahabatan kita baik
– baik saja selamanya.” kata Rio sambil tersenyum.
”Iya..” jawabku sambil membalas senyum Rio.
TAMAT


